Jumat, 27 April 2012

Tulisan tentang "perlunya demokrasi bagi kaum perempuan"


Perlunya demokrasi bagi kaum perempuan.
Memperbincangkan demokrasi dan kesejahteraan perempuan menarik untuk dilakukan di tengah suasana Hari Kartini dan seabad kebangkitan perempuan nasional.
Dalam perbincangan (baik politik, budaya maupun ekonomi), masalah perempuan masih menjadi the second issue.Tidak aneh jika beberapa kalangan menilai demokrasi belum maksimal dalam memberikan kesejahteraan bagi kaum perempuan. Padahal, demokrasi dipilih sebagai sistem politik di hampir segenap negara karena dianggap akan membawa kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kenyataan tersebut menggelindingkan gugatan publik terhadap demokrasi dalam membangun kesejahteraan. Puncaknya kembali mencuat dari beragam opini dan pendapat yang menyebutkan bahwa demokrasi hanyalah alat yang dapat dinomorduakan karena ia tidak meniscayakan terbangunnya tatanan kesejahteraan. Tujuan sejatinya adalah kesejahteraan.
Jika direnungi, memang opini itu tidaklah berangkat dari ruang hampa yang tanpa musabab.Faktanya,demokrasi yang kita terapkan dan perjuangkan selama berdirinya negara Indonesia belum mampu mengangkat harkat kesejahteraan bangsa seutuhnya. Alih-alih mencapai kesejahteraan, tidak jarang justru demokrasi hanya menjadi dalih para pemegang kekuasaan untuk memeras harta rakyat.
Akhirnya,kesejahteraan jauh dari harapan. Di dalam setiap perhelatan politik seperti pemilu, demokrasi berubah sebatas jargon politik untuk meraup dukungan rakyat seperti terlihat pada pilkada-pilkada di daerah.Akuntabilitas, good government, peduli kepada rakyat, dan pemerintahan aspiratif sering mencuat dalam kampanye, tetapi masih menggumpal sebagai janjijanji palsu.Bahkan,janji-janji memajukan kesejahteraan perempuan pun jarang terdengar dari para politisi kita,baik di daerah maupun di pusat. Sepuluh tahun sudah kita menapaki Reformasi.
Tidak mengherankan jika mereka kini lebih merindukan tatanan politik Orde Baru yang lebih menyejahterakan sekalipun dalam sekam kebebasan yang dibungkam. Alih-alih memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, demokrasi yang kita jalankan belum mampu menyuguhkan kesejahteraan kaum perempuan. Saat ini tercatat ada sekitar 111 juta jiwa perempuan berada di bawah garis kemiskinan.
Kemiskinan seolah begitu identik dengan perempuan Indonesia. Bahkan pada 2003, Ann Whitehead pada Failing Women, Sustaining Poverty membeberkan bahwa lebih separuh penduduk miskin dunia di negara berkembang adalah perempuan. Mungkinkah diskriminasi dan subordinasi yang diterima perempuan dalam kemiskinan dan tingginya tingkat kekerasan, trafficking, serta prostitusi mengukuhkan kegagalan demokrasi?
Demokratisasi Perempuan
Selama ini, kebebasan berpendapat selalu menjadi tolok ukur keberhasilan demokrasi sehingga cenderung mengabaikan cita-cita substansialnya.
Paradigma ini akan menjadikan negara seperti—apa yang disebut Thomas Hobbes (1588–1679)—Leviathan yang justru secara nilai kontraproduktif dengan roh demokrasi.
Perempuan dan anak-anak menjadi korban yang paling menderita akibat perang atas nama demokrasi itu. Pada saat itulah demokrasi mengubah perangai negara menjadi sesosok raksasa laut (Leviathan) yang superganas. Inilah alasan mengapa demokrasi tidak bisa hanya dimaknai kebebasan an sich tanpa dilihat sejauh mana memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, bukan bagi elite.
Kita perlu kembali meletakkan fondasi demokrasi yang sejati.Demokrasi yang bukan hanya dimaknai sebagai kebebasan an sich, melainkan untuk kesejahteraan rakyat, khususnya kaum perempuan.Demokrasi bukan kebebasan tanpa batas, melainkan pengontrolan semua bentuk kekuasaan agar akuntabel di mata rakyat. Demikian ungkap Plato (427–47 SM) beberapa ratus tahun yang lalu. Demokrasi harus dan mutlak dimaknai untuk kesejahteraan dan perempuan memainkan peran penting untuk mendorong kesejahteraan bangsa.
Dengan demikian kesejahteraan perempuan harus tetap dimasukkan dalam perbincangan demokrasi dan pembangunan ekonomi.Kita patut mencontoh para peraih Nobel dari beberapa ekonom dan para tokoh penggerak ekonomi kerakyatan yang mengangkat kesejahteraan bangsanya melalui pemberdayaan wanita.
Langkah tepat yang perlu dilakukan dalam mendorong kesejahteraan perempuan adalah membuka keran demokrasi bagi perempuan dalam segala ruang,baik budaya,ekonomi,dan politik.Dorongan beragam pihak juga sangat diperlukan,baik ulama,pemerintah, akademisi maupun organisasiorganisasi perempuan lain seperti Iwapi.
Harapan ke depan, kita tidak lagi merasa sebagai sang demokrat hanya karena pemilu berjalan jujur dan adil atau pilkada sukses, melainkan merasa menjadi negara yang demokratis ketika kemelaratan perempuan tidak lagi bersemai di negeri ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar